Langsung ke konten utama

Anak Rantau


 

Dear Jakarta...

Beberapa bulan yang lalu gue nyampe di Jakarta, memilih meninggalkan bali untuk sementara waktu dan membuang diri ke ibu kota itu bukan sebuah pilihan yang gampang. selama 3 tahun merantau dan hidup di bali tentunya sudah membuat gue sangat nyaman di bali, dan membuat pilihan untuk ke jakarta adalah pilihan untuk keluar dari zona nyaman. Lagi-lagi gue memberanikan diri keluar dari zona nyaman setelah 3 tahun stay di bali. Bicara tentang zona nyaman, kadang kita emang harus keluar dari zona nyaman supaya kita bisa mencoba dan mengenal hal yang baru. Menurut gue, untuk mencapai sesuatu yang diinginkan kita seharusnya bisa berani keluar dari zona nyaman supaya bisa belajar dan mengenal suatu hal baru. Entah itu kita bisa mendapatkan teman yang baru, pengalaman baru dan masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan.

Dari tahun 2017 gue keluar merantau ke kota orang, berpindah dari satu kota ke kota lainnya buat gue banyak belajar sabar dan berserah hanya kepada Tuhan. Mengadu nasib sendirian ke kota orang bekerja dan tentunya sambil jalan-jalan juga, bertahan hidup di tengah-tengah orang asing dan kembali beradaptasi dengan budaya atau lingkungan baru adalah sesuatu yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Banyak hal yang bisa di pelajari dari tindakan keluar dari zona nyaman gue.

Setiap kota yang gue datangi punya cerita tersendiri dan akan terus ada dalam hati dan pikiran gue termasuk Jakarta. Jakarta adalah kota yang banyak diminati oleh para pejuang rantau seperti gue ini hehehe. Selain bisa mendapatkan gaji yang lumayan tinggi, berkenalan dengan orang-orang baru dan bisa mempelajari banyak hal juga dari orang-orang yang kita temuin di Jakarta.

Merantau juga bisa secara gak langsung ngajarin gue tentang bertahan hidup dan menghadapi orang-orang bermuka dua. Jakarta kota yang sangat besar, ada bermacam karakter orang yang bisa kita temuin disana termasuk orang-orang munafik dan suka mencari kesalahan orang lain. Drama pertemanan tentunya akan mudah ditemukan di Jakarta. Bukan cuma di Jakarta aja, di banyak kota besar lainnya juga pasti ada orang-orang yang punya karakter yang bisa buat kita kesal hehehe…

So, sebagai perantau kita gak boleh terlalu gampang percaya dengan orang baru ya guys. Tapi bukan berarti sama teman lama kita bisa percaya 100%, karena teman lama juga sangat bisa memainkan kemunafikkannya di depan kita. Berpura-pura baik tapi ternyata aslinya busuk banget. Canda busuk hahahaha. Tetap waspada aja ya guys dalam bergaul.

Terakhir nih…

Thank you buat kalian yang mau membaca sedikit coretan hati gue hehe. Masih banyak yang perlu di perbaikin sih. Jangan lupa kasih kritik dan masukan ya buat gue supaya bisa jadi lebih baik lagi.

Love June 😊

 

From ketinggian 35.000 kaki, Batik Air.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketakutanku

Entah kenapa rasa takut kembali menghantuiku. Rasa takut akan kehilangan hatiku lagi. Aku takut dia tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Aku takut luka itu terulang lagi. Aku menyayanginya, tapi aku tidak ingin menggenggam dia sangat erat hingga dia kelelahan dan berusaha mencari cara untuk melepaskan genggamanku. Aku memberikan dia kebebasan bersyarat, bersyarat agar dia masih ingat bahwa ada aku bersamanya. Aku teringat kembali tentang masa lalunya. Hanya tidak ingin bernasib sama seperti orang itu. Aku mempercayainya, aku menutup rapat-rapat pintu kecurigaanku. Ya walaupun kadang rasa curiga itu mengetok pintu meminta untuk keluar. Tapi aku tetap percaya, karena aku menyayangi dia. Tidak perduli seberapa baik dan seberapa buruknya dia di masa lalu. Aku hanya melihatnya di masa sekarang dan di masa depan. Tidak perduli dengan omongan orang yang mungkin lebih banyak yang nyinyir tentang kami. Aku tidak pernah bermain dalam menjalani hubungan. Maka dari itu, aku juga tida...

Rindu

Dear kamu.. Apakah kamu tau bahwa aku sedang merindukanmu? Bukan rindu, tapi sangat merindukanmu. Belakangan ini aku sering merasa tertuduh oleh perasaanku sendiri, aku disuruh jujur kepada perasaanku sendiri kalau aku sedang merindukanmu. Kau berhasil meluluhkan sedikit hati yang beku ini.. tapi kamu juga berhasil membekukannya kembali. Aku menyerah sebelum rasa suka ini berubah jadi rasa sayang. Aku pergi sebelum aku tidak ingin pergi. Aku merelakanmu bahagia bersamanya, karena memang itu yang terbaik. Terimakasih telah mencairkan sedikit hati yang beku ini.. aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu. Sekarang dan selanjutnya kita hanya teman, tapi apakah aku bisa? Aku harus bisa. Taukah kamu, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Setiap kali aku bertanya apakah kau baik-baik saja? Tapi kau menjawab kalau kau sedang tidak baik-baik saja, itu membuatku sedih. Aku ingin mendengar kabarmu yang sedang bahagia.. aku tidak melepaskanmu untuk melihatmu bersedih. Aku selalu ...

Melepaskan Luka

Dalam hidup, melepaskan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan kita.  Hal yang kita anggap biasa itu kebanyakan gampang dilakukan oleh orang-orang. Ketika kita melepaskan seseorang, kita harus melepaskannya dengan ikhlas. Ikhlas? Aku sedang belajar ikhlas melepaskan yang ingin terlepas. Aku selalu berfikir, bagaimana mungkin aku mampu melepaskan seseorang yang telah menorehkan rasa begitu dalam? Yang ketidakhadirannya sebentar saja akan menjadi momen sepi dan dingin. Momen yang sangat ku hindari. Tapi aku harus mampu melepaskan karena aku menyayanginya. Aku sungguh menyayangi dia dengan hati yang tulus. Tidak ingin melihatnya terluka. Tidak ingin membuatnya terluka dengan memaksakan untuk terus bersamaku. Dengan melepasnya, aku ingin dia bahagia dengan pilihannya. Ini luka yang terdalam. Buat kamu yang membuat luka ini. Hei, aku sudah memaafkanmu. Jangan pikirkan aku, jangan membuat pikiranmu terbebani karena telah melukaiku. Kamu baik-baik ya.. jangan sa...