Langsung ke konten utama

Rindu



Dear kamu..
Apakah kamu tau bahwa aku sedang merindukanmu?
Bukan rindu, tapi sangat merindukanmu. Belakangan ini aku sering merasa tertuduh oleh perasaanku sendiri, aku disuruh jujur kepada perasaanku sendiri kalau aku sedang merindukanmu.
Kau berhasil meluluhkan sedikit hati yang beku ini.. tapi kamu juga berhasil membekukannya kembali.
Aku menyerah sebelum rasa suka ini berubah jadi rasa sayang. Aku pergi sebelum aku tidak ingin pergi. Aku merelakanmu bahagia bersamanya, karena memang itu yang terbaik. Terimakasih telah mencairkan sedikit hati yang beku ini.. aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu.
Sekarang dan selanjutnya kita hanya teman, tapi apakah aku bisa? Aku harus bisa.
Taukah kamu, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.
Setiap kali aku bertanya apakah kau baik-baik saja? Tapi kau menjawab kalau kau sedang tidak baik-baik saja, itu membuatku sedih. Aku ingin mendengar kabarmu yang sedang bahagia.. aku tidak melepaskanmu untuk melihatmu bersedih. Aku selalu berusaha membuatmu bahagia saat bersamaku, tapi aku tidak tau apakah kau benar-benar bahagia ketika bersamaku? Aku selalu menebak perasaanmu saja.
Beberapa orang sering bertanya kepada ku apakah aku baik-baik saja? Dan aku selalu berusaha menjawab aku baik-baik saja, walaupun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Hanya diriku dan Tuhan yang tau.

Aku selalu berdoa dan berharap kau bahagia. Karena aku tidak melepaskanmu untuk melihat dan mendengar kau bersedih. Aku melepaskanmu dan membiarkanmu bahagia bersamanya..
"Pergilah berjalan ketempat yang membuatmu lebih bahagia, dan ketika kakimu mulai lelah melangkah lihatlah kebelakang aku selalu disini menjadi rumahmu".
Cari aku kapanpun kau membutuhkanku, aku akan berusaha untuk selalu mempunyai waktu untukmu.. tapi ketika aku benar-benar melupakanmu, saat itulah waktuku bukan untukmu lagi.
Aku selalu berharap untuk kebahagiaan kita berdua.
Tetaplah tersenyum apapun yang terjadi :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketakutanku

Entah kenapa rasa takut kembali menghantuiku. Rasa takut akan kehilangan hatiku lagi. Aku takut dia tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Aku takut luka itu terulang lagi. Aku menyayanginya, tapi aku tidak ingin menggenggam dia sangat erat hingga dia kelelahan dan berusaha mencari cara untuk melepaskan genggamanku. Aku memberikan dia kebebasan bersyarat, bersyarat agar dia masih ingat bahwa ada aku bersamanya. Aku teringat kembali tentang masa lalunya. Hanya tidak ingin bernasib sama seperti orang itu. Aku mempercayainya, aku menutup rapat-rapat pintu kecurigaanku. Ya walaupun kadang rasa curiga itu mengetok pintu meminta untuk keluar. Tapi aku tetap percaya, karena aku menyayangi dia. Tidak perduli seberapa baik dan seberapa buruknya dia di masa lalu. Aku hanya melihatnya di masa sekarang dan di masa depan. Tidak perduli dengan omongan orang yang mungkin lebih banyak yang nyinyir tentang kami. Aku tidak pernah bermain dalam menjalani hubungan. Maka dari itu, aku juga tida...

Melepaskan Luka

Dalam hidup, melepaskan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan kita.  Hal yang kita anggap biasa itu kebanyakan gampang dilakukan oleh orang-orang. Ketika kita melepaskan seseorang, kita harus melepaskannya dengan ikhlas. Ikhlas? Aku sedang belajar ikhlas melepaskan yang ingin terlepas. Aku selalu berfikir, bagaimana mungkin aku mampu melepaskan seseorang yang telah menorehkan rasa begitu dalam? Yang ketidakhadirannya sebentar saja akan menjadi momen sepi dan dingin. Momen yang sangat ku hindari. Tapi aku harus mampu melepaskan karena aku menyayanginya. Aku sungguh menyayangi dia dengan hati yang tulus. Tidak ingin melihatnya terluka. Tidak ingin membuatnya terluka dengan memaksakan untuk terus bersamaku. Dengan melepasnya, aku ingin dia bahagia dengan pilihannya. Ini luka yang terdalam. Buat kamu yang membuat luka ini. Hei, aku sudah memaafkanmu. Jangan pikirkan aku, jangan membuat pikiranmu terbebani karena telah melukaiku. Kamu baik-baik ya.. jangan sa...