Langsung ke konten utama

Bali Punya Banyak Cerita


Aku pernah terluka karena cinta.
Aku juga pernah memutuskan untuk tidak ingin menjalin hubungan spesial dengan siapapun, kecuali hanya sebatas persahabatan. Setelah merasakan luka yang cukup dalam, aku berusaha menjalani hidup sesuai yang Tuhan inginkan.

Aku sibuk berkelana seorang diri, berusaha menghibur diri sendiri. Mencari pertemanan baru, bukan berarti sahabat-sahabat di kota asalku terlupakan begitu saja. Mereka juga punya peranan penting dalam hidupku. Tanpa bantuan dan dukungan dari mereka, aku mungkin tidak bisa bangkit dari keterpurukan. Tentu saja yang terutama dan paling pertama yang aku dapatkan dari Tuhan dan dari Mami, setelah itu dari sahabat-sahabatku. Disaat aku jatuh, saat aku sedih dan seperti tidak mampu berbuat apapun, mereka selalu menemaniku dan menyemangatiku. 

Aku bersyukur kepada Tuhan kerena telah memberikanku Ibu yang sangat baik dan sabarnya luar biasa, aku juga bersyukur kepada Tuhan karena mempertemukanku dengan mereka sahabat-sahabatku.
Dimanapun Aku berada, aku tidak pernah lepas dari pantauan dan dukungan mereka.
(Cerita lengkap tentang Ibu yang hebat dan sahabat nanti aja ya guys hehe)

Aku kesana kemari seorang diri, ke satu kota ke kota lainnya dan pilihanku jatuh di Pulau Bali. Aku sangat menyukai pulau yang indah ini, walaupun aku punya kenangan yang menyakitkan juga sih di Bali tapi tidak mengurangi keinginanku untuk tinggal di pulau yang indah ini.

Setahun lebih aku menjalani kehidupan di Bali, jauh dari orang tua dan sahabat-sahabat. Aku sibuk dengan semua aktivitasku yang menyenangkan dan sedikit menyedihkan di Bali.
Suatu hari aku bertemu dengan seorang "teman baru". Seiring berjalannya waktu, dari "teman baru" berganti status jadi "teman dekat", dan berganti status dari "teman dekat" jadi status "berpacaran". Akhirnya ya Meryl melepas predikat "jomblo akut" yang diberikan netizen yang budiman wkwkwkk.

Aku yang awalnya hanya biasa-biasa saja, tidak ingin terlalu serius dalam menjalin hubungan malah "terjebak dengan perasaanku sendiri".
Iya, aku menyayangi Dia. Terakhir kali aku tulus menyayangi seseorang tetapi seseorang itu memberikan luka yang cukup dalam dan sembuhnya lumayan lama. Setelah 3 tahun lebih aku kembali menyayangi seseorang dengan tulus.
Kita mempunyai banyak kesamaan, sama-sama lahir 9 Juni 1995 beda jam lahir aja, sampai memiliki 90% sifat yang sama juga.

Singkat cerita...
Hubungan kami berdua tidak selalu berjalan dengan mulus, ada aja masalah yang harus kami hadapi bersama. Bahkan saat aku tau dia berkata tidak jujur, itu tidak membuat rasa sayangku hilang begitu saja.
Aku tulus menyayangi dia, tidak perduli apapun yang netizen katakan. Aku juga punya banyak salah ke Dia, tapi dia tetap menerimaku apa adanya.

Tidak ada suatu yang kebetulan terjadi di dunia ini. Aku percaya semuanya terjadi atas izin Sang Pencipta.

Teruntuk kamu :
Aku tulus menyayangimu. Aku tidak mau mempermasalahkan masa lalu. Aku menerima kamu apa adanya, bukan ada apanya.
Aku memang bukan yang sempurna, tapi aku selalu berusaha jadi yang terbaik.
Terimakasih telah menyayangiku, teruslah menyayangiku.

Aku memilihmu. Dan aku memilihmu terus menerus dan selalu. Tanpa henti, tanpa ragu. Aku akan terus memilihmu. -mfm

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketakutanku

Entah kenapa rasa takut kembali menghantuiku. Rasa takut akan kehilangan hatiku lagi. Aku takut dia tiba-tiba menghilang meninggalkanku. Aku takut luka itu terulang lagi. Aku menyayanginya, tapi aku tidak ingin menggenggam dia sangat erat hingga dia kelelahan dan berusaha mencari cara untuk melepaskan genggamanku. Aku memberikan dia kebebasan bersyarat, bersyarat agar dia masih ingat bahwa ada aku bersamanya. Aku teringat kembali tentang masa lalunya. Hanya tidak ingin bernasib sama seperti orang itu. Aku mempercayainya, aku menutup rapat-rapat pintu kecurigaanku. Ya walaupun kadang rasa curiga itu mengetok pintu meminta untuk keluar. Tapi aku tetap percaya, karena aku menyayangi dia. Tidak perduli seberapa baik dan seberapa buruknya dia di masa lalu. Aku hanya melihatnya di masa sekarang dan di masa depan. Tidak perduli dengan omongan orang yang mungkin lebih banyak yang nyinyir tentang kami. Aku tidak pernah bermain dalam menjalani hubungan. Maka dari itu, aku juga tida...

Rindu

Dear kamu.. Apakah kamu tau bahwa aku sedang merindukanmu? Bukan rindu, tapi sangat merindukanmu. Belakangan ini aku sering merasa tertuduh oleh perasaanku sendiri, aku disuruh jujur kepada perasaanku sendiri kalau aku sedang merindukanmu. Kau berhasil meluluhkan sedikit hati yang beku ini.. tapi kamu juga berhasil membekukannya kembali. Aku menyerah sebelum rasa suka ini berubah jadi rasa sayang. Aku pergi sebelum aku tidak ingin pergi. Aku merelakanmu bahagia bersamanya, karena memang itu yang terbaik. Terimakasih telah mencairkan sedikit hati yang beku ini.. aku tidak pernah menyesal telah mengenalmu. Sekarang dan selanjutnya kita hanya teman, tapi apakah aku bisa? Aku harus bisa. Taukah kamu, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Setiap kali aku bertanya apakah kau baik-baik saja? Tapi kau menjawab kalau kau sedang tidak baik-baik saja, itu membuatku sedih. Aku ingin mendengar kabarmu yang sedang bahagia.. aku tidak melepaskanmu untuk melihatmu bersedih. Aku selalu ...

Melepaskan Luka

Dalam hidup, melepaskan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan kita.  Hal yang kita anggap biasa itu kebanyakan gampang dilakukan oleh orang-orang. Ketika kita melepaskan seseorang, kita harus melepaskannya dengan ikhlas. Ikhlas? Aku sedang belajar ikhlas melepaskan yang ingin terlepas. Aku selalu berfikir, bagaimana mungkin aku mampu melepaskan seseorang yang telah menorehkan rasa begitu dalam? Yang ketidakhadirannya sebentar saja akan menjadi momen sepi dan dingin. Momen yang sangat ku hindari. Tapi aku harus mampu melepaskan karena aku menyayanginya. Aku sungguh menyayangi dia dengan hati yang tulus. Tidak ingin melihatnya terluka. Tidak ingin membuatnya terluka dengan memaksakan untuk terus bersamaku. Dengan melepasnya, aku ingin dia bahagia dengan pilihannya. Ini luka yang terdalam. Buat kamu yang membuat luka ini. Hei, aku sudah memaafkanmu. Jangan pikirkan aku, jangan membuat pikiranmu terbebani karena telah melukaiku. Kamu baik-baik ya.. jangan sa...